Angga sudah bersiap untuk berangkat sekolah. Ia duduk sendirian di tengah ruang makan yang sangat luas. Sarapan dengan roti dan susu sudah jadi kebiasaan baginya. Ia
"Aku pulang!" ucap Angga, saat ia sudah sampai di depan pintu rumahnya. Ia langsung masuk dan melenggang menuju kamar tidurnya. Tidak ada yang membalas ucapannya, dan dia juga tidak peduli tentang itu.
Ia segera menghempaskan tubuhnya di ranjang, ia melamun sambil menatap langit-langit kamarnya. Melamunkan banyak hal, membayangkan hal-hal yang tidak akan terjadi dalam dirinya. Angga beranjak dari tempat tidur. Ia memutuskan untuk menyalakan laptop.
Sudah beberapa jam, dia terus memandangi laptop. Matanya masih belum merasa lelah. Ia tidak sadar waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Dia berdiri, keluar dari kamarnya menuju ruang makan. Sepi, tidak ada siapapun di situ. Pembantu di rumahnya sudah menyiapkan makan malam yang ada di meja makan. Angga memakannya sendirian, dalam hening.
Tidak banyak yang bisa dilakukan di rumahnya. Makan, tidur, melamun, dan hal-hal yang menurutnya sangat membosankan. Tapi hanya itulah yang bisa ia lakukan. Angga adalah seseorang yang datar, tidak menyukai apapun, tetapi juga tidak membenci sesuatu. Sikapnya selalu sama dari hari ke hari. Sendiri, sudah menjadi sebuah teman baginya.
Malam hari, ketika ia hendak beranjak tidur. Ia kembali melihat langit-langit kamarnya, putih, polos, tanpa warna, mungkin seperti itu yang dia pikirkan. Seperti kehidupannya yang terlalu 'sempurna' sehingga tidak ada yang bisa ia lakukan lagi.
Ini memang sebuah kehidupan yang biasa baginya, terkadang dia bermimpi memiliki sebuah kehidupan yang 'normal' menurutnya. Orang tua yang baik, Ayah yang tegas dan seorang Ibu yang perhatian. Sehingga ia tidak perlu menjadi seorang Angga yang dikenal orang lain. Tidak perlu menunjukkan sikap dingin untuk menjadi pelindung dirinya....
To be continued...
Sudah beberapa jam, dia terus memandangi laptop. Matanya masih belum merasa lelah. Ia tidak sadar waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Dia berdiri, keluar dari kamarnya menuju ruang makan. Sepi, tidak ada siapapun di situ. Pembantu di rumahnya sudah menyiapkan makan malam yang ada di meja makan. Angga memakannya sendirian, dalam hening.
Tidak banyak yang bisa dilakukan di rumahnya. Makan, tidur, melamun, dan hal-hal yang menurutnya sangat membosankan. Tapi hanya itulah yang bisa ia lakukan. Angga adalah seseorang yang datar, tidak menyukai apapun, tetapi juga tidak membenci sesuatu. Sikapnya selalu sama dari hari ke hari. Sendiri, sudah menjadi sebuah teman baginya.
Malam hari, ketika ia hendak beranjak tidur. Ia kembali melihat langit-langit kamarnya, putih, polos, tanpa warna, mungkin seperti itu yang dia pikirkan. Seperti kehidupannya yang terlalu 'sempurna' sehingga tidak ada yang bisa ia lakukan lagi.
Ini memang sebuah kehidupan yang biasa baginya, terkadang dia bermimpi memiliki sebuah kehidupan yang 'normal' menurutnya. Orang tua yang baik, Ayah yang tegas dan seorang Ibu yang perhatian. Sehingga ia tidak perlu menjadi seorang Angga yang dikenal orang lain. Tidak perlu menunjukkan sikap dingin untuk menjadi pelindung dirinya....
To be continued...
Comments
Post a Comment