Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2014

Morning Reflection

     Manusia, tidak akan pernah bisa mengetahui apa yang akan terjadi di esok hari. Tidak ada yang bisa memprediksi kita akan menjadi apa. Tidak ada yang mengerti, siapa yang akan kita temui di hari-hari esok. Tidak ada yang akan tahu kapan kematian menghampiri kita...      Lalu, mengapa manusia dapat tersenyum? Mengapa manusia masih bisa bersenang-senang? Bermain-main? Bukankah kehidupan dunia tidak semudah itu? Apa arti kita hidup? Mengapa banyak orang yang lebih mementingkan kehidupannya di dunia? Padahal mereka mengerti ada kehidupan lain setelah mati.      Mengapa kita bisa tertawa? Padahal kematian bisa saja menghampiri kita. Mendatangi dengan tiba-tiba. Siap tidak siap, bukankah hal itu tidak akan pernah bisa dicegah? Mengapa kita masih bisa melukai orang lain? Padahal kita tidak akan tahu, apakah masih ada kesempatan untuk meminta maaf kepada mereka.      Lalu, apa yang harus kita lakukan di dunia...

Perfection : A Beginning

     Sempurna? Sebenarnya apa definisi sempurna? Apa kita merasa tubuh kita sudah sempurna? Apa kita merasa bahwa kehidupan yang kita miliki sudah sempurna? Bagaimana caranya kita bisa mencapai kesempurnaan? Apakah itu mutlak? Atau hanya bersifat sementara?      Angga, seorang remaja laki-laki yang hidupnya sempurna... Mungkin... Memang menurut penilaian orang lain hidupnya sempurna. Mereka semua ingin menjadi seperti Angga. Tampan, pintar, dan lahir di keluarga yang kaya raya. Itu sempurna, kan? Tidak bagi Angga sendiri...      "Ma, aku berangkat sekolah ya!" ucap Angga pelan. Mamanya hanya mengangguk sambil terus menatap laptop di hadapannya. Apa itu nyaman?      Di sekolahnya, Angga adalah seseorang yang menjadi idola. Semuanya ingin berteman dengan Angga. Teman-teman di sekolahnya menganggap akan sangat keren bisa berteman dengan Angga. Sayang, tidak ada yang bisa berteman dengan dia.   ...

Dibalik Sebuah Kesendirian

Sendiri, setiap manusia pasti tidak ingin sendiri. Kesendirian datang ketika kita berputus asa… bersedih. Kesendirian itu tidak datang dengan tiba-tiba. Dia datang karena kita memintanya. Dia datang karena kita… menjauh dari lingkungan sekitar. Arin, gadis berparas cantik yang dikenal sangat dingin. Temannya beranggapan, Arin lebih nyaman sendiri. Tapi aku tidak percaya, mana ada manusia yang lebih senang sendirian. Bukankah rasanya tidak menyenangkan? Dia diam ketika yang lain tertawa, dia sendiri ketika yang lain asyik pergi ke kantin bersaman teman mereka. Apa yang dia rasakan? --oOo-- “Arin!” sapaku dengan senyum manis. Dia hanya melirikku sekilas dan kembali sibuk dengan bacaannya. Perlakuannya yang seperti itu membuatku kesal. Bagaimana tidak? Bukankah seharusnya dia, berterima kasih… karena paling tidak ada yang mau menyapanya ketika istirahat. Aku berusaha lebih sabar, karena aku penasaran mengapa dia bersikap seperti itu. Aku du...