Sendiri, setiap manusia pasti tidak ingin sendiri. Kesendirian datang ketika kita berputus asa… bersedih. Kesendirian itu tidak datang dengan tiba-tiba. Dia datang karena kita memintanya. Dia datang karena kita… menjauh dari lingkungan sekitar.
Arin, gadis berparas cantik yang dikenal sangat dingin. Temannya beranggapan, Arin lebih nyaman sendiri. Tapi aku tidak percaya, mana ada manusia yang lebih senang sendirian. Bukankah rasanya tidak menyenangkan? Dia diam ketika yang lain tertawa, dia sendiri ketika yang lain asyik pergi ke kantin bersaman teman mereka. Apa yang dia rasakan?
--oOo--
“Arin!” sapaku dengan senyum manis. Dia hanya melirikku sekilas dan kembali sibuk dengan bacaannya. Perlakuannya yang seperti itu membuatku kesal. Bagaimana tidak? Bukankah seharusnya dia, berterima kasih… karena paling tidak ada yang mau menyapanya ketika istirahat.
Aku berusaha lebih sabar, karena aku penasaran mengapa dia bersikap seperti itu. Aku duduk di sebelahnya dan menatapnya yang masih asyik membaca. Aku terdiam, auranya yang misterius membuatku ingin mengetahuinya lebih banyak.
“Kau membuatku tidak nyaman!” ujar Arin pelan tanpa menolehkan kepalanya. Aku tidak menjawabnya. Dia diam, aku tidak berani untuk memulai pembicaraan. Aku hanya tetap diam hingga istirahat berakhir.
Pada hari-hari setelahnya, aku masih berusaha untuk mendekatinya. Aku mengikutinya diam-diam. Aku ingin tahu, bagaimana kehidupan dia yang sebenarnya. Pulang sekolah, aku melihat dia memasuki sebuah sedan hitam. Tanpa aku sadari, aku mengikuti sedan itu hingga berhenti di depan sebuah rumah yang besar.
Arin, berjalan memasuki rumah itu. Aku langsung mematikan mesin motor dan mengitip dalam rumahnya lewat celah pagar. Seorang bapak keluar dari rumah itu dan berdiri di depan Arin yang hanya menunduk. Aku mencoba melompati pagar rumah yang cukup pendek. Berhasil! Meskipun menimbulkan suara, bapak itu dan Arin masih tidak menyadarinya.
Aku mengendap-endap dan bersembunyi di balik semak. Beberapa saat kemudian, aku melihat Bapak itu bersiap melayangkan tangannya. Aku keluar dari persembunyianku dan memegang tangan Bapak itu.
“Ri… Rino…” sahut Arin pelan. aku hanya tersenyum pada Arin dan melepaskan tangan bapak tersebut. “Kamu siapa?” tanya bapak itu, “saya Rino, maaf sebelumnya. Saya mengganggu pembicaraan Bapak. Tapi yang Bapak lakukan sudah keterlaluan! Bagaimana seorang Ayah tega memukul anaknya sendiri!” aku menggenggam tangan Arin dengan erat.
“Anak!?! Itu anakku!? Aku tidak pernah sudi punya anak seperti itu!” bapak itu langsung masuk ke dalam rumah dan menutup into dengan kencang. Tanpa sadar, Arin meneteskan air mata. Dia menunduk, mungkin dia tidak ingin aku melihatnya menangis.
Aku menuntunnya pergi ke suatu tempat. Aku dan Arin duduk di sebuah bangku cokelat. Aku membiarkan dia untuk menangis. Setelah tangisnya berhenti, aku memberanikan diri untuk bertanya. “Sebenarnya, ada masalah apa?” tanyaku hati-hati. Dia hanya diam, dia menolehkan kepalanya dan menatapku.
“Hidup seseorang itu berliku-liku. Aku diam karena aku benci, aku benci orang lain, aku benci kedua orang tuaku, aku bahkan membenci diriku sendiri.” ujarnya, ia menatap langit. “Mereka bukan orang tuaku, mereka melahirkanku bahkan sebelum mereka menikah! Mereka bukan orang tuaku!” lanjutnya, aku terdiam. Kukira dia akan menangis, tapi tidak! Dia hanya tersenyum sinis.
“Setelah aku lahir, Ibuku pergi meninggalkanku. Ayahku bekerja sebagai bos dari pengedar narkotika. Setiap hari, ketika aku pulang dia hanya akan menamparku lalu kembali ke kamarnya. Aku sendiri, karena aku menganggap orang lain juga seperti itu.” Arin terdiam, aku terdiam.
“Tidak semua seperti itu, Rin. Mungkin yang kamu bilang benar, tapi tidak semuanya. Masih ada orang yang tulus menyayangimu,” ujarku. “Kalau itu benar, lalu siapa? Murid di kelas selalu membicarakan orang lain, mereka membicarakan teman mereka sendiri. Tidak ada cinta yang tulus. Kata tulus hanya ada di imajinasi, bukan di kehidupan nyata.”
“Arin, kamu masih punya Tuhan. Dia selalu ada dimanapun kamu. Dia menemanimu ketika kamu sendiri. Tidakkah kamu menyadarinya?” ucapku, “Tuhan?” gumam Arin, “Andai aku mengerti siapa Tuhanku. Aku tidak pernah mengerti, Ayahku tidak pernah mengajariku soal Tuhan. Dia sekakan tak peduli soal itu. Jika aku tahu, aku yakin aku tidak akan seperti ini.” Arin tertunduk.
“Percayalah, Tuhan selalu ada di saat kamu percaya Tuhan itu ada. Dia selalu bersama kepada orang yang mempercayainya. Dan kamu harus mengerti itu…” aku dan Arin hanya menatap langit. Arin tersenyum, senyuman yang sangat tulus… tidak seperti dirinya selama ini…
There's a song that's inside of my soul It's the one that I've tried to write over, and over again I'm awake in the infinite cold But you sing to me over, and over, and over again So I lay my head back down And I lift my hands and pray to be only yours I pray to be only yours I know now, you're my only hope Sing to me the song of the star Of your galaxy dancing and laughing, and laughing again When it feels like my dreams so far Sing to me all the plans that you have for me over again So I lay my head back down And I lift my hands and pray to be only yours I pray to be only yours I know now, you're my only hope I give you my destiny I'm giving you all of me I want your symphony Singing in all that I am At the top of my lungs I'm giving it all i have So I lay my head back down And I lift my hands and pray to be only yours I pray to be only yours I pray to be only yours I know now, you're my only hope
Comments
Post a Comment