Skip to main content

Aku dan Boyband


“Ninaaaa!!! Ada telepon dari temanmu!” seru Mama dengan keras, aku langsung menuruni tangga dengan cepat dan mengambil telepon.
“Eh, Tia!” kataku senang, “Ada apa?” lanjutku.
“Eh, Sabtu besok mau hang out gak? Kita mau ngelihat konser Boyband Indonesia!” seru Tia dengan senang di telepon.
“Mmm... boleh sih, meskipun aku gak terlalu suka. Tapi gak apa-apa deh!” balasku senang.
“Yeey, kalau gitu Sabtu pukul enam sore kamu harus ke rumahku ya!” suruh Tia, aku hanya menjawab “Iya” lalu mengobrol lagi sedikit dan menutup telepon. Setelah itu, aku kembali ke kamar.
“Bingung deh, Tia kok bisa suka sama kayak gituan ya? Padahal itu kan biasa aja” gumamku pelan sambil tertawa kecil.
Di tahun 2020 ini, makin banyak muncul boyband maupun girlband Indonesia. Nah, yang keren itu sekarang Boyband dan Girlband Indonesia sudah tidak meniru-niru luar negeri lho. Hebat kan! Tapi sayangnya, aku tidak terlalu suka dengan mereka. Entah apa alasannya...
Waah, dari tadi aku sudah ngomong panjang lebar tapi kalian belum tahu namaku kan? Perkenalkan, namaku Grace Ninddya. Aku blasteran, Inggris-Indonesia. Tapi, aku lebih memilih nama panggilan Nina karena itu cukup keren. Hehehe... Sekarang sudah malam, aku harus tidur. Mimpi indah semuanya!
2 hari kemudian, kebetulan sekali hari ini libur karena guru-guru sedang ada rapat. Entah kenapa, mungkin sedang mengurus kakak-kakak kelas 3 SMA yang akan UNAS. Sedangkan aku yang masih kelas 1 SMA santai-santai saja deh. Tak disangka, ternyata sekarang hari Sabtu. Waah, aku penasaran dengan konser nanti malam...
Sekarang sudah pukul setengah 5, aku sudah mandi dan telah rapi dengan pakaianku
Tepat pukul enam aku sampai di rumah Tia. Ternyata selain aku dan Tia, ada tiga sahabatku yang lain. Yaitu Gadis, Cici, dan Shilla. “Nah, sudah lengkap! Sekarang kita berangkat, yuk!” seru Tia semangat, ia pun menuntun kami masuk ke mobilnya. Tetapi, ternyata Ayahnya yang menyetir.
15 menit kemudian, kami sampai di sebuah gedung besar. Ternyata, Tia berhasil mendapat 5 buah tiket VIP dan kita bisa menonton di tempat yang paling depan. Meskipun tidak pakai kursi, menonton di paling depan sudah sangat menyenangkan!
Kami langsung memasuki gedung tersebut. Meskipun konser belum dimulai, sudah beribu-ribu penonton yang berada di gedung ini. Kami langsung menuju ke tempat yang paling depan. Aku hanya berharap, semoga penampilan boyband Indonesia di konser ini tidak mengecewakan. Konser dimulai, aku cukup menikmatinya. Apalagi Tia, dia terlihat sangat senang.
“Penampilan spesial malam ini, Menz!” seru salah satu MC, penonton bersorak. Tia sungguh senang, karena Menz adalah boyband favoritnya. Aku hanya geleng-geleng kepala melihat Tia dan sahabatku yang lain.
Kukira mereka benar-benar spesial, tak kusangka mereka lypsinc! Aku kecewa, inikah yang disebut spesial? Aku bingung sendiri. Tanpa sadar aku mengatakan “Payah” dengan cukup keras. Salah satu member Menz yang berada di dekat kita ternyata mendengarnya. Begitu pula keempat sahabatku. Tetapi mereka tidak begitu memedulikannya karena mereka terpengaruh dengan nyanyian dan tarian Menz.
Di akhir acara, “Eh, teman-teman... sebenarnya aku punya lima tiket backstage. Kalian mau?” tawar Tia, tentu saja kami berempat mengangguk.
Ketika berjalan-jalan di backstage yang dipenuhi dengan boyband-boyband yang keren dan cool (menurut Tia)...
“Eh, aku harus ke kamar mandi nih!” kataku, Tia hanya mengangguk. Aku pun berlari kecil menuju toilet terdekat. Ternyata, toilet disini perempuan dan laki-laki digabung. Cukup menyebalkan bagiku.
Setelah keluar dari toilet, “Teman-teman kemana ya? Kok, seenaknya saja meninggalkanku!” gumamku pelan. Aku mulai mencari mereka. Tapi karena tidak terlalu perhatian, aku pun menabrak seorang lelaki yang kupikir umurnya sama sepertiku!
“Eh, maaf kak!” kataku. Aku menatap wajahnya, sepertinya aku pernah melihatnya. Oh iya! Ternyata dia salah satu anggota Menz.
“Iya, tidak apa-apa. Eh, bukannya kamu yang mengatai kami payah?” tanyanya tiba-tiba, aku mulai gugup dan mengangguk. Dia hanya tertawa kecil, lalu aku bingung.
“Memang kenapa, Kak? Tidak boleh?” tanyaku balik, aku sudah mulai berani. “Boleh-boleh saja, tapi sepertinya kamu membenci kami?” balasnya, aku menggeleng. “Lalu?” lanjutnya. “Aku hanya kecewa, kenapa kalian lypsinc padahal itu penampilan yang spesial” jawabku seadanya. Dia hanya mengangguk mengerti.
“Oh iya, aku Rei. Rei Ardiwinata. Kalau kamu?” tanya dia yang ternyata bernama Rei sambil mengajak berjabat tangan. “Aku Nina, nama lengkapnya Grace Ninndya” jawabku, lalu aku membalas jabatan tangannya.
“Sepertinya kita seumuran, sekolah dimana?” tanya Kak Rei lagi, “Kelas satu Kak, di SMA Golden Star” balasku. “Wah, aku juga kelas satu. Kalau gitu panggil aku Rei saja!” katanya, aku hanya mengangguk.
“Aku harus pergi, mungkin hari Senin nanti akan ada kejutan!” seru Rei, dia pun langsung pergi entah kemana. Kejutan? Aku bingung di dalam hati. Setelah itu, aku memutuskan untuk menuju ke tempat parkir.
Di tempat parkir, “Nina, kami sudah lama menunggumu!” seru Cici, “Kamu kemana aja, sih?” tanya Gadis. “Maaf, tadi toiletnya penuh!” jawabku bohong. “Ya sudah, ayo kita pulang!” kata Tia dan Shilla bersamaan. Kami semua mengangguk.
Di dalam mobil, aku masih terus memikirkan Rei. Ternyata, tidak semuanya payah. Buktinya, Rei tidak payah kok. Aku juga memikirkan kejutan yang dikatakan Rei. Kejutan apa, sih? Bikin penasaran aja, deh... kataku dalam hati.
Ternyata Ayahnya Tia mengantarkanku sampai ke rumah, aku langsung mencium punggung tangan Mamaku. Makan malam, mandi, ganti baju, dan langsung menghempaskan diri ke kasur yang empuk.
Esoknya, aku bangun pukul 12 siang! Untung saja, hari ini hari Minggu. Aku langsung menuju kamar mandi dan berganti pakaian. Karena merasa lapar, aku langsung mengambil sepiring spageti yang sudah disediakan Mamaku.
Setelah kenyang, aku memutuskan untuk membuka laptopku. Biasa, kerjaan anak remaja sekarang. Internetan! Aku memulai perjalanan dunia mayaku dari facebook. Ternyata ada salah satu friend request yang menarik perhatianku. Namanya adalah “Reiko Ardian Winata”. Sepertinya aku pernah mendengarnya. Bukankah ini mirip dengan nama Rei!?! Aku langsung meng-confirm orang itu. Kebetulan sekali, ia sedang online. Aku langsung mengajaknya mengobrol.
Grace: Hi, ini Rei?
Reiko: Yupz, gimana kamu tahu?
Grace: Namanya mirip dengan Rei
Reiko: Oh, sudah siap dengan kejutan hari Senin
Grace: Memang ada apa sih, Kak?
Reiko: Lihat Saja
Reiko is offline
Tak kusangka dia offline, aku pun ikut offline dan akhirnya tertidur pulas.
Keesokan harinya, aku langsung mandi dan mengenakan seragamku. Setelah itu, aku memakan sarapanku dan segera berangkat ke sekolah dengan sepeda.
Sesampainya di kelasku, tidak biasanya kelas seramai ini. Aku langsung menemui Tia dan bertanya kepadanya.
“Kamu gak tau ya, Menz bakal sekolah disini!” seru Tia lebay, “Eh, berarti Rei?” kataku pelan, “Apa?” tanya Tia, “Oh, nggak kok!” balasku. Lalu, aku langsung duduk di bangkuku. Sebenarnya, aku tidak memiliki teman sebangku. Jadi, kursi di sebelahku kosong. Entah siapa yang akan mengisi.
Bel masuk berbunyi, wali kelasku Bu Shopia datang dan diikuti oleh seorang laki-laki. Ternyata itu Rei!!!
“Pagi anak-anak!” kata Bu Shopia, “Pagi Bu!” balas kami. “Perkenalkan dia ini adalah murid baru di kelas kita, namanya Rei Ardiwinata. Rei, kamu duduk di sebelah Nina ya!” kata Bu Shopia sambil menunjuk kursi kosong di sebelahku.
Dia mengangguk lalu duduk. Ketika pelajaran dimulai, “Ternyata ini kejutannya?” tanyaku pelan kepada Rei, ia hanya mengangguk. “Huuh, kau menyebalkan!” balasku lagi tetapi tetap dengan pelan. Ternyata, itu kedengaran oleh guru kami, Bu Chiko. Salah satu guru ter-killer di sekolah ini.
“Nina, Rei! Jangan mengobrol di dalam kelas! Keluar dan hormat kepada tiang bendera hingga pelajaran Ibu berakhir!” bentak Bu Chiko. Kami berdua pun segera menurut dan segera keluar dari kelas.
Ketika dihukum, “Gara-gara kau sih!” seruku, “Kok, nyalahin aku. Kan, kamu yang teriak” balas Rei, aku hanya merengut. “Ya, sudah... kita kabur saja yuk! Kita ke kantin ajah!” ajak Rei, aku menggeleng. “Yakin nih? Aku yang traktir lhoo!” lanjutnya, ia mencoba menggodaku. Akhirnya aku pun mengangguk. “Yess... Ayo cepat!” katanya sambil menggandeng tanganku menuju kantin.
“Bu, bakso dan es tehnya dua ya!” seru Rei. Ketika, kami asyik makan. “Tak kusangka, anggota boyband itu baik juga” celetukku, “Apa?” tanyanya, aku hanya menggeleng. “Tidak usah diberitahu, aku sudah tahu kok” katanya sambil tertawa. Pipiku pun memerah. “Oh, iya... besok sepulang sekolah ke taman ya!” kata Rei, aku mengangguk sambil menghabiskan baksoku.
“Eh, cepat... Nanti Bu Chiko marah lagi!” kataku, Rei mengangguk dan kembali hormat kepada tiang bendera bersamaku. Setelah itu, Bu Chiko datang dan menyuruh kami kembali ke kelas.
Sepulang sekolah, aku dan keempat sahabatku pulang bersama. Tentunya masing-masing menaiki sepedanya. “Nina, gimana keadaanmu ketika dihukum dengan Rei?” tanya Tia dengan semangat. “Apa???” seru Gadis, Cici, dan Shilla kaget. Kebetulan mereka bertiga tidak sekelas denganku dan Tia. “Yah, gitu lah!” jawabku malas. Karena bosan dihujani berbagai pertanyaan. Aku pun mulai ngebut dan meninggalkan mereka berempat.
Keesokan harinya ketika sepulang sekolah, aku langsung menuju taman bersama Rei. “Nah, ada apa Rei?” tanyaku, “Uhm, mau gak kamu jadi pacar aku?” tanya Rei. “Apaaa? Mmm, mungkin iya!” jawabku sambil tersenyum. Rei senang dan langsung memelukku. “Heeiii, lepaskan!” seruku. Rei pun segera melepaskan pelukannya.
Ternyata, ada yang mengintip pembicaraan kami berdua, dia adalah Dhina. Gadis yang paling menyebalkan, suka berbohong, dan menyebarkan rahasia orang lain. Karena hari itu aku tidak menaiki sepeda, dia pun mengajakku untuk menaiki motornya. Dia ingin mengantarku pulang!
“Makasih ya, Rei!” ucapku, di tersenyum manis. Manis sekali. Setelah itu, dia pun pergi dan aku langsung masuk ke rumahku.
Pagi-pagi sekali, aku sudah sampai di sekolahku entah mengapa. Biasanya aku datang agak terlambat. Di kelas aku menemukan Rei yang mukanya tampak resah. “Ada apa, Rei?” tanyaku, dia terdiam dan menarikku menuju mading sekolah. “Lihat saja!” katanya.
“Apa!?!” aku terkejut melihat sebuah berita yang cukup besar berjudul “REI MENZ PACARAN SAMA ORANG BIASA KAYAK NINA!?!”. Aku langsung kembali ke kelas dan bertemu Tia yang mukanya terlihat marah. “Jadi, itu ya yang kamu lakukan di belakang kami!?!” bentak Tia marah. “Ta... Tapi... Aku...” aku tak sanggup membalasnya, air mataku menetes satu persatu. “Kamu tega ya! Mulai detik ini, kita  bukan sahabat lagi!” lanjutnya sambil keluar dari kelas. Aku langsung duduk di bangkuku dan menangis sepuasnya.
“Nina, kamu nggak apa-apa kan?” tanya Rei lalu duduk di sebelahku, aku menatapnya dan langsung memeluknya. “Sudah sabar ajah, aku yakin masih ada orang yang mau bersahabat denganmu” hiburnya, aku tersenyum kecil.
Sepulang sekolah, aku naik sepeda seorang diri. Cici, Gadis, Shilla, apalagi Tia... sepertinya mereka tidak mau bersamaku lagi. Aku pun terisak di sepanjang perjalanan.
Sesampai di rumah, “Nina, tadi ada temenmu yang kesini. Cowok, ngasih apa Mama juga gak tahu. Itu barangnya udah ada di kamarmu” kata Mama, aku terkejut lalu langsung masuk ke kamarku. Ada sebuah kotak yang cukup besar! Aku mulai membukanya dan isinya adalah teddy bear ukuran big size yang memegang hati bertuliskan “I Love You”. Aku langsung memeluk boneka itu. “Makasih ya, Rei!” gumamku pelan sambil membenamkan mukaku ke teddy bear itu. Sekarang, aku menamai teddy bear itu Chilla.
Beberapa hari kemudian, Tia datang menghampiriku. “Nina, aku minta maaf ya...” kata Tia, aku mengangguk sambil tersenyum “Dari dulu udah aku maafin, kok” balasku. “Oh iya, aku punya berita gembira. Aku ditembak sama Titto. Anak kelas tiga dan salah satu anggota Menz juga!” bisiknya di telingaku. “Benarkah?” tanyaku, ia mengangguk senang. “Cici, Gadis, dan Shilla juga udah pacaran dengan Ilham, Nino, dan Putra!” katanya agak pelan. Aku tersenyum senang. “Oh iya, nanti aku akan mengadakan pesta. Kamu datang, ya! Dan temanya kali ini adalah Couple. Jadi kamu datang sama Rei yaa!” serunya lagi, aku menggangguk.
Malamnya, aku bersama Rei datang  ke pestanya Tia. Tia sudah cantik, ia menggandeng tangan Titto. Sepertinya dia senang sekali. Cici, Gadis, dan Shilla juga telah datang dengan pacarnya. “Eh, gimana kalau kita foto bersama!” usul Cici, kami semua mengangguk.
Tia menyalakan timer di kamera dan langsung kembali ke posisi. “TIGA... DUA... SATU... CHEESEEE!!!” seru kami serempak. Wah, benar-benar akhir yang indah bagi kami semua!

--oOo--

Comments

Popular posts from this blog

Lirik Lagu Mandy Moore - Only Hope

There's a song that's inside of my soul It's the one that I've tried to write over, and over again I'm awake in the infinite cold But you sing to me over, and over, and over again So I lay my head back down And I lift my hands and pray to be only yours I pray to be only yours I know now, you're my only hope Sing to me the song of the star Of your galaxy dancing and laughing, and laughing again When it feels like my dreams so far Sing to me all the plans that you have for me over again So I lay my head back down And I lift my hands and pray to be only yours I pray to be only yours I know now, you're my only hope I give you my destiny I'm giving you all of me I want your symphony Singing in all that I am At the top of my lungs I'm giving it all i have So I lay my head back down And I lift my hands and pray to be only yours I pray to be only yours I pray to be only yours I know now, you're my only hope

Perfection : An Ordinary Day

     Angga sudah bersiap untuk berangkat sekolah. Ia duduk sendirian di tengah ruang makan yang sangat luas. Sarapan dengan roti dan susu sudah jadi kebiasaan baginya. Ia       "Aku pulang!" ucap Angga, saat ia sudah sampai di depan pintu rumahnya. Ia langsung masuk dan melenggang menuju kamar tidurnya. Tidak ada yang membalas ucapannya, dan dia juga tidak peduli tentang itu.      Ia segera menghempaskan tubuhnya di ranjang, ia melamun sambil menatap langit-langit kamarnya. Melamunkan banyak hal, membayangkan hal-hal yang tidak akan terjadi dalam dirinya. Angga beranjak dari tempat tidur. Ia memutuskan untuk menyalakan laptop.         Sudah beberapa jam, dia terus memandangi laptop. Matanya masih belum merasa lelah. Ia tidak sadar waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Dia berdiri, keluar dari kamarnya menuju ruang makan. Sepi, tidak ada siapapun di situ. Pembantu di rumahnya sudah menyiapkan makan malam ya...

Lirik Lagu BoA - Between Heaven and Hell OST. Shark (Eng & Rom)

Romanized: Charari miwohaja neoreul aneulsurok nan apa Achimimyeon jeonbu itgo tto neoreul chatgetjiman   Charari mirwoduja mossseuge dwae beorin sarang Eotteokedeun siganiran tto uril heureul teni   Mianhae ajik neoreul saenggakhaeseo saranghaeseo Neol gyeolgugen wanjeonhi nochido motal naraseo   Dan haruman deo saranghaja tto geojitmalman Neoreul tto bomyeon da itgoseo tto useumyeonseo Saranghaebeorineun nareul   Dan harurado ijeoboja mot jikil malman Neoreul mot bomyeon apeumyeonseo tto ulmyeonseo Dajimman haneun na Neoreul dugo oganeun cheongukgwa jiok sai   Ijeuryeo hae bolsurok dagaon niga cham mipda Daheul sudo an bol sudo eobseul geu georiraseo   Useulge niga daneun moreudorok nae maeumeul Na gyeolgugen i maeum jujido motal georaseo   Dan haruman deo saranghaja tto geojitmalman Neoreul tto bomyeon da itgoseo tto useumyeonseo Saranghaebeorineun nareul   Dan harurado ijeoboja mot jikil malma...