Minggu pagi yang cerah, aku duduk-duduk di depan
rumah sambil merenung. Aku hanya memikirkan satu, Viona Sakhira Felicia. Dia
adalah sahabatku sejak kecil. Tetapi, sekarang dia pindah ke Singapura. Aku
sangat kangen dengan dia. Kriiiiinngg...
Kriiiiinngg... Bel sepeda berbunyi keras. Aku sudah kenal bunyi itu, bunyi
Mas Doni! Si tukang pos.
“Halo, Jessie! Ada surat untukmu, dari
Singapura!” seru Mas Doni sambil melambaikan surat untukku.
“Hai, Mas Doni! Terimakasih ya...”
seruku sambil berlari-lari menuju Mas Doni.
Dengan cepat kuambil suratku. Aku
duduk kembali diteras rumahku. Aku menatap surat oranye yang kupegang. Oranye
kesukaan Viona! Aku segera membukanya. Isinya adalah...........
For Jessie,
My Best Friends Saturday,
16 July 2001
In
INDONESIA
Hello,
BFF!
Jessie, how are you? I’m fine
okay... Maybe you not understand this. Hehehe, sorry... Aku masih meragukannmu
tentang your English Languange. Kamu kan, dulu tidak bisa bahasa Inggris. Wooi!!!
Don’t angry please... Tapi, aku punya tantangan for you. You will found a paper
in this Envelope. Buka saja! Thanks!!!
Tolong, kerjakanlah tantangan ini...
You will know my big secret!
Salam
manis
Viona
S.F
Hmm...
Aku meraba-raba amplop yang kupegang. Aha... Ada sesuatu yang mengganjal. Aku
segera mengambilnya. Kertas! Aku mulai membaca kertas tersebut
Hmm...
Kamu sudah tidak ceroboh ya? Ok, petunjuk pertama. Tempat ini sering kita
kunjungi. Kita selalu bercanda disini. Tempat ini yang tau hanya kita. Penduduk
kota sama sekali tidak tau. Biasanya, disitu angin sepoi-sepoi. Kita juga
sering memetik bunga liar yang berada disitu.
Aku
bingung sekali, apa maksudnya? Lebih baik aku mandi dulu, ah! Biar lebih fresh.
Sekarang, kan... Masih pukul 6. Aku segera mengambil handuk kuning bermotif
bunga-bunga putihku dan segera mandi. Ah, segar rasanya! Aku segera memakai
kaos lengan panjang bergaris biru-kuning dan celana panjang jeans. Aku
mengambil ranselku dan kuisi botol minum, buku catatan, tepak pensil, dompet,
handphone, tepak makan, dan beberapa lembar fotoku bersama Viona. Akupun keluar
dari kamarku yang telah rapi. Tiba-tiba terlintas di pikiranku,
“Aha, taman kota!!!” gumamku riang.
“Maaa!!!
Aku ke taman ya!” seruku.
“Iya, tapi kamu sarapan dulu!” balas
Mama.
“Iya, deh!” kataku dan segera kembali
ke ruang makan.
Aku duduk di salah satu kursi. Mama
menyiapkan sepiring roti bakar dan segelas jus alpukat untukku. Aku segera
menghabiskannya dengan lahap. Memang, roti bakar buatan Mama sangatlah lezat.
Aku tersenyum riang sambil meneguk jus alpukat.
“Ma, sudah habis... Aku berangkat ya!”
seruku.
“Iya!!!” balas Mama dari dapur.
Aku
segera keluar dari rumah dan mengambil sepeda kuningku. Aku segera melaju
meninggalkan rumahku menuju taman kota. Aku bersemangat sekali dengan tantangan
Viona. Aku ingin cepat sampai! Setelah melintasi jalan raya, aku sampai di
sebuah jalan kecil dengan tanaman dipinggirnya. Kalau aku ke taman kota aku
sangat suka melewati jalan ini. Jalannya lebih sejuk.
Akhirnya,
aku telah sampai di taman kota. Aku mengendarai sepedaku hingga sampai di
tengah-tengah taman kota. Tempat yang indah dan sangat sepi. Aku duduk di salah
satu bangku cokelat dekat taman sambil mengusap peluh di dahiku.
“Huuf!” gumamku pelan sambil merasakan
angin sepoi-sepoi. Aku menatap kolam air mancur tepat di depan bangku yang
kududuki. Kuperhatikan ada seberkas cahaya yang memantul dari kolam tersebut.
Aku lihat lebih dekat, ternyata itu adalah selembar kertas!
“Haa, ada kertas!?!” kataku, aku
melipat lengan bajuku dan mencoba mengambil sebuah kertas yang terdapat di
dasar air mancur.
Aku
sudah bisa mendapatkannya! Ternyata, kertas itu tahan air... Tulisannya tidak
basah. Aku membaca tulisan di kertas itu dengan perlahan.
Hai, Jessie...
Kamu
pintar ya! Nah, petunjuk kedua... Ini adalah sebuah tempat dimana kamu dan aku
sering makan bersama. Kalau ada waktu kosong kita pasti rajin kesana. Tanyakan
kepada salah satu orang disana, pasti dia akan memberikanmu petunjuk lagi.
Aku
tersenyum, Itu pasti Cinnamon Cafe... Aku dan Viona sering kesana untuk
mengobrol sambil minum segelas Chocolate Ice. Salah satu minuman khas di
Cinnamon Cafe yang sangat lezat. Aku segera menyimpan surat itu kedalam tasku.
Lalu, aku memulai perjalananku menuju Cinnamon Cafe.
Di
Cinnamon Cafe, aku mencari orang yang diberitahukan Viona.
“Mmm, mungkin Mbak Liya... Dia kan,
yang paling akrab denganku dan Viona!” gumamku pelan.
Jessie segera mencari-cari Mbak Liya.
Setelah 15 menit mencari, akhirnya aku menemukan Mbak Liya yang sedang
beristirahat.
“Mbak Liya!” seruku senang,
“Oh, hai Jessie! Bagaimana kabarmu?
Sudah lama kamu nggak kesini!” tanya Mbak Liya.
“Baik,
mbak! Mbak, ada surat buat aku nggak?” tanyaku balik,
“Sepertinya
ada, sebentar ya!” jawab Mbak Liya, aku hanya mengangguk.
Beberapa
saat kemudian, Mbak Liya kembali dengan membawa sepucuk surat beramplop oranye.
Mbak Liya memberikannya kepadaku, aku pun mengucapkan terimakasih. Aku langsung
membuka amplop tersebut dan membaca isinya...
You’re so fantastic Jessie! Tetapi, bukan surat ini yang kamu cari. Kamu
hampir tepat, tapi kamu kurang teliti. Baca lagi petunjuk kedua... Hehehe, kamu
ceroboh deh... Ini semua kan, Tentang
Aku... >VIONA<
Aku
makin bingung, maksud Viona apa sih... Aku kembali membaca petunjuk yang kedua.
Disitu aku baru sadar. Ternyata “TANYAKAN” bukan petunjuk berupa surat. Aku
segera kembali ke Mbak Liya. Tapi, aku harus menanyakan apa??? Aku melihat
surat Viona, kata “Tentang Aku” ditebalkan. Apakah aku harus menanyakan tentang
Viona? Kembali lagi, aku sekarang sudah bersama Mbak Liya.
“Mbak
Liya, tahu sesuatu tentang Viona?” tanyaku,
“Uhm,
sebenarnya ada satu hal yang harus kamu ketahui...,” jawab Mbak Liya.
“Apa
Mbak?” tanyaku lagi kebingungan.
“Sebenarnya,
ada satu surat lagi dari Viona. Dan mungkin yang satu ini kamu harus
membacanya” jawab Mbak Liya sambil memberikan sebuah surat beramplop putih
polos.
Aku
mengambil surat itu dan membuka amplopnya, aku membacanya perlahan.
Dear Jessie, my best friend...
Akhirnya
kamu berhasil menemukan surat ini. Kamu harus tahu yang terjadi denganku.
Pergilah menuju Central Hospital, aku yakin kamu tahu rumah sakit itu. Semoga
kamu mengetahui yang sebenarnya.
Best Regard, Viona...
“Makasih
Mbak, atas suratnya. Sepertinya aku harus pergi!” seruku, aku berlari keluar
dari Cafe kesayanganku dan Viona itu.
Aku
langsung mengambil sepedaku dan mengendarainya menuju Central Hospital yang
terletak sekitar satu kilometer dari Cinnamon Cafe. Meskipun keringat sudah
membanjiri dahiku, aku memaksakan diriku untuk mengayuh pedal sepeda lebih
cepat lagi. Karena di pikiranku hanya ada Viona, aku pun tidak memperhatikan
jalannya dan akhirnya pandanganku gelap dan tak tahu apa-apa lagi.
--oOo--
1
bulan kemudian...
Aku
berada di taman yang sangat indah, dengan bunga berwarna warni dan kupu-kupu
yang beragam warnanya berputar di sekelilingku. Aku memandang sebuah bukit yang
dipenuhi bunga. Ada seorang perempuan yang melambaikan tangannya kepadaku. Aku
melihatnya, itu siapa? Kenapa dia melihatku terus menerus.
Karena
aku penasaran, aku berlari menuju bukit tersebut. Kulihat mukanya, putih dan
bercahaya. Muka itu pernah kulihat, itu muka siapa? Viona? Dan ternyata benar
itu Viona! Aku sudah berada di dekatnya, dia tersenyum. Senyumnya indah sekali,
dia langsung memelukku dan aku pun membalas pelukannya.
“Viona,
aku kangen banget sama kamu!” seruku sambil menatap mukanya.
“Aku
juga kangen banget sama kamu Jes!” balas Viona, dia mengajakku bermain-main di
bukit itu. Karena kecapekan, kami pun duduk sambil menatap pelangi yang indah.
“Tempat
ini indah banget ya, aku pengen tinggal disini. Biar aku bisa sama kamu terus!”
kataku penuh harap, aku melihat muka Viona. Senyum Viona memudar.
“Kamu
nggak bisa tinggal disini, Jessie. Ini tempat berbeda, kamu harus melanjutkan
hidupmu. Aku yakin kita bisa bertemu lagi, suatu saat nanti” balas Viona sambil
menepuk pundakku. Aku menatapnya sekali lagi, dan tiba-tiba tubuhnya hilang
diterbangkan oleh angin.
Aku
membuka mataku perlahan, cahaya terang langsung mengenai mataku. Setelah cukup
sadar, aku menatap sekitarku. Ada Mama dan Papa?? Bukannya Papa sedang bekerja
di luar negeri, kenapa bisa disini?
“Ma...
Pa... Ini dimana? Aku lapar banget nih” kataku pelan sambil meringis, aku
memegang dahiku, ada apa di dahiku? Seperti perban.
“Sayangg,
kamu udah bangun? Kamu sudah koma selama sebulan!” jawab Mama,
“Dan
sekarang kamu sedang ada di Central Hospital, nak!” lanjut Papa.
“Ahh,
beneran? Mama sama Papa gak bohong kan? Bukannya terakhir aku ketemu sama Viona
di padang bunga. Oh iya, sekarang Viona mana?? Dia di Central Hospital kan??”
tanyaku,
“Mama
gak bohong, kamu ditabrak mobil. Untung saja, pemilik mobil itu mau bertanggung
jawab. Kalau soal Viona, Viona... Mmm, sebenarnya Viona...” ujar Mama pelan.
“Sebenarnya,
Viona sudah meninggal satu jam sebelum kamu bangun. Dia meninggalkan surat ini”
kata Mama sambil menunjukkan sebuah surat berbau melati. Aku membacanya
perlahan.
Dear
Jessie,
Kamu
udah bangun, kan? Mungkin kalau kamu baca suratku, aku sudah tidak ada lagi di
dunia ini. Aku sudah pergi ke dunia yang lain, yang lebih indah. Maaf, karena
tantanganku sudah membuatmu jadi begini. Aku benar-benar minta maaf.
Sebenarnya, aku ingin bertemu denganmu, sebulan yang lalu... Aku divonis
mengidap penyakit kanker otak. Dan aku ingin sekali bertahan agar bisa
melihatmu terbangun dari tidurmu yang panjang itu. Sayang sekali, aku masih
belum dan tak akan bisa melihatmu terbangun.
Selamat
tinggal, Jessie! Aku yakin kita bisa bertemu lagi, suatu saat nanti!!!
Viona, sahabatmu selamanya...
“Ma...
Pa... Viona udah meninggal? Aku pengen banget ke makamnya, boleh kan Ma? Pa?” tanyaku
perlahan. Mama dan Papa mengangguk bersamaan.
Sore
hari, di pemakaman Viona. Aku berada di samping makam Viona, dengan kursi roda
yang menemaniku karena kakiku masih belum berfungsi dengan baik. Aku menaburkan
bunga melati kesukaannya, di atas pemakamannya.
“Viona,
terimakasih udah menjadi sahabat terbaik aku. Semoga kita bisa bertemu lagi,
suatu saat nanti!” ucapku sambil menaruh setangkai bunga melati di nisannya.
Comments
Post a Comment