Jam dinding di kamarku sudah menunjukkan pukul sepuluh. Tapi aku masih belum bisa tidur. Aku masih memikirkan perkataan Monita tadi.
”Namanya Belinda Starry. Dia hampir sama sepertimu, tapi dia blasteran. Ayahnya dari Indonesia sedangkan ibunya dari Inggris. Dia lebih mirip ibunya dengan mata biru dan rambut pirang. Tapi dia sudah tinggal di Indonesia sejak umur enam tahun. Dulu dia sahabatku, tapi entah kenapa sekarang ia berbeda. Ia kaya tetapi sangat sombong dan suka memilih teman, dia paling benci dengan orang yang ‘lebih’ darinya. Memang kenapa kamu tanya tentang dia?” ucap Monita,
“Tidak apa-apa, aku hanya penasaran” jawabku pelan,
“Aku lanjutin lagi ceritanya ya... nah, dua cewek yang menemaninya itu mirip dengannya. Kaya dan cantik. Yang rambutnya cokelat di ikat dua itu namanya Melanie Putri, sedangkan yang rambutnya hitam ikal itu namannya Angelina Geraldine. Dia juga blasteran kok, Indonesia-Amerika” lanjut Monita, aku hanya mengangguk-angguk mengerti.
Aku menatap jam dinding kamarku, berharap jam itu berputar kembali. Aku mengingat-ingat muka Belinda dengan tatapan sinisnya ketika melihatku. Tetapi, di depan kedua temannya ia langsung tersenyum senang seperti tidak ada masalah yang dihadapinya. Apakah itu yang disebut bermuka dua?
Semoga besok tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Aku mengambil boneka teddy bear putihku dan langsung memeluknya. Setelah itu, lama-kelamaan aku pun tertidur.
---oOo---
Keesokan harinya, aku bangun cukup pagi. Aku sudah siap di meja makan tepat pukul enam. Ibuku sudah menyiapkan sup yang masih hangat. Wanginya, membuat perutku makin keroncongan. Setelah kakak dan ayahku datang. Aku langsung menyendokkan sup ke mangkukku. Benar-benar nikmat.
Setelah sarapan, aku dan kakakku diantar ayah ke sekolah. Sesampainya di sana, aku disambut oleh senyum manis Monita. Dia benar-benar baik kepadaku. Aku membalas senyumannya dan langsung menggandeng tangannya. Kami berjalan berdua menuju kelas.
Aku segera duduk di bangkuku, tapi rasanya ada yang janggal. Sepertinya ada yang lengket di rokku. Ketika aku mau berdiri, ternyata ada permen karet! Monita yang duduk di sebelahku segera membantu membersihkannya. Karena masih ada bekas permen karet di rokku, dia mengajakku ke UKS untuk meminjam rok cadangan.
Sekilas aku melihat Belinda yang tertawa kecil sambil menatapku sinis. Aku sebenarnya tidak ingin berprasangka tapi mukanya mengatakan kalau ia pelakunya.
“Kamu lihat mukanya Belinda tadi, nggak?” tanya Monita,
“Kenapa emangnya?” balasku,
“Mukanya itu lho, kayaknya dia nggak suka sama kamu” jawabnya,
“Aku juga sudah berpikir begitu” kataku pelan. Setelah itu, aku langsung mengganti topik yang lain sambil berjalan bersama menuju kelas. Hari ini, kami akan memulai pelajaran pertama kami. Memang, MOS di SMP ini hanya sehari. Hanya kemarin saja. Mungkin supaya tidak kelamaan. Hehehe...
---oOo---
Pelajaran pertama di hari Selasa ini adalah olahraga. Aku dan Monita langsung menuju ke toilet untuk berganti baju, begitu juga yang lainnya.
Guru olahraga di sekolah kami adalah Pak Emerald. Keren banget yaaaa, namanya. Pertama-tama, kita melakukan pemanasan dulu. Setelah melakukan pemanasan, materi pertama di semester ini adalah basket. Sebagian anak ada yang bersorak dan sebagiannya lagi ada yang merengut, termasuk Belinda dkk. Kalau aku sih, tidak. Karena aku suka semua olahraga, hahaha. Aku yang berdiri di sebelahnya mendengar keluhannya, ia benar-benar menyebalkan. >.<
“Idih, basket?? Hari ini panas banget, nanti kulitku yang putih ini ternodai!” katanya dengan gaya lebay sambil mengibaskan rambutnya, kedua teman yang lainnya hanya mengangguk saja.
“Dia annoying banget, Han... eneg aku dengarnya” gumam Monita pelan, “Helloooo, I listen it!!” kata Belinda tiba-tiba, dia menatap kami tajam sambil berkacak pinggang.
Monita hampir saja meledakkan amarahnya jika aku tidak menenangkannya. Untung saja, Pak Emerald langsung membagi kami menjadi empat tim jadi ada satu tim yang beranggotakan 6 orang. Yaa, kabar baiknya aku dan Monita sekelompok. Dan kabar buruknya, kami sekelompok dengan Belinda.
Ketua tim kami adalah Anto, dan tim kami akan melawan tim yang memiliki ketua Tomy. Anto adalah ketua kelas kami, dia cukup jago olahraga. Tomy juga cukup hebat dalam basket, karena badannya tinggi semampai. Pertandingan pertama dimulai, dan hasilnya.... syukurlah, tim kami menang! Yeeyy!!
Tim kami akan melawan dengan tim Reynald. Tadi, tim Reynald sudah mengalahkan tim Galang. Sebenarnya, ada sebuah pengakuan. 21 murid di kelas kami, 17 diantaranya adalah perempuan. Jadi, hanya ada 4 laki-laki di kelas kami. So, in this match... Satu tim memiliki satu laki-laki.
Pertarungan final ini sangat sengit. Reynald berbadan besar. Tenaganya juga tidak main-main. Di tengah pertandingan, aku berhasil mendapatkan bola. Tapi ketika aku mau memasukkan bola ke ring. Dengan sengaja, Belinda menyenggolku dan berusaha merebut bolaku. Padahal, kita kan satu tim... Aku terjatuh karena perbuatan Belinda, dan sepertinya kaki kananku terkilir.
“Awww!” kataku sambil mengelus-elus bagian kakiku yang mulai membiru.
Pertandingan dihentikan sejenak, Pak Emerald segera menyuruh para laki-laki untuk membopongku ke UKS. Sedangkan, Pak Emerald sendiri ingin membicarakan suatu hal kepada Belinda. Meskipun begitu, Belinda tetap tersenyum puas melihatku yang kesakitan. Monita, yang tidak tahu harus berbuat apa. Yang mengikuti para laki-laki yang sedang membopongku menuju UKS.
“Monita, ini baru hari kedua kamu di sini. Tetapi kamu sudah berbuat masalah. Sebagai hukumannya kamu harus berlari sepuluh putaran mengitari lapangan basket!” suruh Pak Emerald dengan tegas.
“Ta... tapi, pak!!” kata Belinda terputus-putus.
“Tidak ada tapi-tapian. Sekarang kamu cepat lari!” seru Pak Emerald sekali lagi, Belinda langsung merengut. Kedua temannya, dengan sigap menunggui Belinda di pinggir lapangan.
“Arrgghhhh, I hate her!!!” sungut Belinda dalam hati.
Di UKS, kakiku langsung diberi obat merah oleh petugas UKS. Ketiga cowok yang membantuku sudah kembali ke kelas. Hanya Anto dan Monita yang menungguiku karena Anto merasa bertanggung jawab atas kejadian ini.
“Hana, Belinda tuh udah harus diberi pelajaran!” kata Monita berapi-api, dia merasa kesal dengan Belinda.
“Udahlah, Ta. Nanti dia juga sadar sendiri” balasku tenang.
“Tapi, tetap nggak bisa dibiarin gitu dong!” ucap Monita dengan muka cemberut.
Aku dan Anto tertawa melihat mukanya, jika dia cemberut atau sedang marah... mukanya terlihat lucuuu!
“Monita, jangan marah dong. Nanti cepet tua lho! Mukamu lucu banget kalau lagi marah!” goda Anto, Monita makin kesal dan memukup pundak Anto.
“Taaa!! Sakittt!” seru Anto, Monita hanya tertawa puas.
Aku ikut tersenyum melihat kelakukan mereka berdua. Tapi di dalam hatiku, masih terselip suatu rasa yang tidak bisa aku jelaskan mengenai Belinda.
“Is she, an enemy??”
Comments
Post a Comment