Pagi yang cerah, tak terasa sudah satu tahun aku bersekolah di SMA Tunas Bangsa ini. Teringat kembali kenangan satu tahun yang lalu saat masa orientasi, waktu pertama kalinya aku bertemu gadis misterius yang mungkin tidak mengenaliku...
"Vino, ada jadwal yang berubah nggak pas orientasi nanti?" tanya Dentang, aku hanya melamun dan mengabaikan pertanyaannya.
"Vin, woii, jawab dong? Ngelamun terus kerjaannya" gerutunya, aku segera tersadar "eeh... iya.. itu nggak ada kok, ikuti aja sesuai sama jadwal yang udah ditentukan" jawabku tergagap. Dentang mengangguk sambil menepuk pundakku.
Aku menatap seorang gadis berambut panjang yang berjalan tepat beberapa meter di depanku. Dhia namanya, murid perempuan yang tanpa disadari menjadikanku pengagum rahasianya sejak setahun yang lalu.
Dhia, gadis yang kelasnya bersebelahan denganku. Aku mengenalnya, tapi dia tidak mengenaliku. Kudengar dari sahabatku yang sekelas dengannya, ia misterius, dingin, jarang berbicara, dan selalu sendirian.
Tapi aku tahu, dia sangat pintar. Ingatanku berputar kembali pada masa ketika aku SD.
"Kak Vinoo! Aku kemaren lomba matematika looh!" seru seorang anak perempuan yang berbeda setahun denganku. "Gimana? Menang nggak?" tanyaku sambil tersenyum. Anak itu hanya tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Aku langsung mengacak-acak rambutnya.
Itulah Dhia, sahabat masa kecilku yang aku kagumi hingga sekarang. Dia yang sekarang sudah menjadi teman seangkatanku, karena kepintarannya di kelas akselerasi saat masa SMP.
Aku sungguh tidak berani untuk menyapanya bahkan saat berpapasan. Bukan malu, tapi aku takut. Aku takut jika aku menyapanya dia hanya membiarkanku dan menganggapku tidak ada. Aku takut jika aku menyapanya, hubunganku dengannya akan menjadi lebih buruk daripada orang yang saling tidak mengenal. Aku hanya takut, untuk memulainya dari awal lagi...
Aku menulis berpuluh-puluh surat untuknya, dan surat-surat itu hanya tersimpan di laci meja belajarku.
Dan sekarang aku tahu, aku sudah terlambat. Aku bahkan sudah kalah, sebelum aku memulainya. Dhia, gadis misterius itu ternyata sudah memiliki laki-laki lain. Yang mungkin lebih baik dari aku. Tapi laki-laki itu, bukan laki-laki lain bagiku. Laki-laki itu adalah Dentang, teman dekatku sendiri...
Aku tidak mungkin marah kepadanya, apalagi membenci... karena mereka tidak tahu apa apa tentang perasaanku. Mereka tidak salah, aku yang salah. Aku yang membiarkan temanku menjadi seseorang yang spesial bagi Dhia.
Biarkan rasa kagum ini aku pendam, akulah yang menyembunyikannya dan aku harus mempertahankannya agar aku tidak membuat orang lain sakit hati.
Satu-satunya hal yang bisa aku lakukan sekarang adalah... memberikan sekumpulan surat-suratku yang telah aku sembunyikan, secara diam-diam. Aku tidak mau peduli dengan perasaannya meskipun aku harus...
Ini satu-satunya cara untuk membuktikan, bahwa aku bukanlah seorang laki-laki yang pengecut. Yang menyerah terhadap perasaannya sendiri sebelum berjuang...
Aku harap, Dhia mau memaafkanku...
Comments
Post a Comment