Mencoba lupakan, tapi ku tak bisa. Mengapa, begini...
Senandung pelan terdengar di sudut ruang kelas yang sepi. Hanya ada seseorang di kelas itu. Tentu saja, hanya ada seorang gadis yang sedang bersenandung. Gadis yang hanya duduk sambil menopang dagunya. Menatap sekeliling kelas yang kosong.
Masih pagi buta, gadis itu sudah rapi di tempat duduknya. Beberapa saat kemudian, ada seorang laki-laki yang datang. Duduk tepat di sebelah Andin, nama gadis itu. Gadis itu tersenyum menatap lelaki itu. Lelaki itu duduk, melirik ke arah Andin sejenak, lalu kembali diam menikmati musik yang sedang ia dengarkan.
Andin hanya tersenyum kecil sambil mengayunkan hatinya dengan bahagia. Ia terus menatap lelaki itu. Dengan mata kecokelatannya ia memandang lelaki itu dengan lekat.
Sepulang sekolah, lelaki itu berjalan sendirian menuju rumahnya. Andin diam-diam mengikutinya. "Ki! Eki!" seru seorang cewek berambut cokelat ikal. Lelaki yang tadi diikuti oleh Andin menolehkan kepalanya. Sedangkan Andin bersembunyi di balik pohon besar.
Eki dan cewek itu mengobrol sebentar lalu Eki langsung membalikkan badannya dan kembali berjalan. Andin dengan semangat kembali mengikuti Eki. Langkah kakinya disamakan dengan langkah kaki Eki.
Eki yang entah kenapa tiba-tiba memelankan langkahnya lalu menoleh ke belakang. Tapi tidak ada siapa-siapa. Eki kembali melanjutkan jalannya hingga ia sampai ke rumah.
Andin terdiam di depan rumah Eki yang cukup besar. Eki sampai di rumahnya dan langsung masuk ke rumahnya. Ia berbaring di kasur sambil menatap ke langit-langit kamarnya. Tiba-tiba ia duduk dan meraih selembar foto yang terpajang rapi di mejanya.
Eki menatap foto itu dalam diam, matanya menunjukkan kesedihan. Sebuah foto dirinya dengan seorang gadis dengan mata kecokelatan yang sangat indah...
Bersambung
Comments
Post a Comment